Sinema Riau

PADA dasarnya semua kisah yang dilayarkan dalam sinema berasal dari skrip tulisan apakah dalam bentuk cerita pendek, novel, catatan perjalanan atau mungkin obituary atau biografi atau lainnya. Walau terkadang sesuatu yang dikisahkan pengarang dalam ranah literasi tak semuanya dapat ditangkap atau diterjemahkan ke dalam panggung atau layar.

Riau sebagai gudang cerita yang dihasilkan para pengarangnya memiliki kekayaan cerita dan kisah dalam berbagai genre, mulai cerita rakyat, mitos, legenda, bahkan cerpen dan novel. Semua kisah itu amat molek dan memberi makna tersendiri jika dipantulkan ke dalam layar sinema. Namun semua itu belum banyak dilakukan. Kisah-kisah itu masih tersimpan dalam laci ingatan atau rak-rak buku di perpustakaan.

Begitu banyak karya sastra bermutu telah dilahirkan selama ini oleh para sastrawan Riau seolah hanya berdialog dengan kaum sastrawan, budayawan dan pencinta senibudaya sahaja. Ia tak sampai ke tangan atau matabaca masyarakat awam dan kaum pelajar. Setidaknya ini dapat disimpulkan setelah melihat kegiatan Kompetisi Film Pendek Islami (KFPI) yang ditaja Kemenag RI dan Kanwil Kemenag Riau beberapa waktu lalu.

Film pendek yang masuk sebagai peserta pada KFPI kebanyakan hadir tanpa teks sastra atau bacaan yang memiliki esthetic (keindahan), dignity (kedalaman), dulce (menghibur) dan utile (bermanfaat). Dalam KFPI Riau 2022 lalu, yang terlihat dan tertayang benar-benar cerita sepertinya hanya dibuat oleh anak remaja hasil dari pikiran, harapan, gejolak yang mereka rasakan yang tentu saja bersifat temporer dan populer.

Dalam hal ini, para peserta tak dapat dipersalahkan karena banyak faktor yang membuat para pelajar, mahasiswa atau masyarakat awam tidak bersentuhan dengan karya sastra Riau. Boleh jadi itu karena sosialisasi dari sastrawan dan seniman Riau yang kurang atau barangkali ketidakpedulian banyak pihak, seperti pemerintah dan masyarakat itu sendiri terhadap karya sastra Riau.

Sesungguhnya amatlah molek jika karya-karya sastrawan Riau menjadi sebuah film karena nilai lokalitas Melayu tersimpan di sana. Keindahan, kearifan nilai budaya dan kemolekan budi-bahasa serta kerupawanan alam Riau akan menjadi latar, seting dari karya layar tersebut.

Jika tema sentralnya nilai islami, maka karya para pengarang Riau hampir dipastikan ujud di dalamnya karena akar tunggang kebudayaan Melayu adalah Islam.

Jika kegiatan seperti KFPI ini terus berlanjut pada masa-masa hadapan, maka sejatinya haluan penggarapannya mesti bertolak, berpangkal dan berganjak kembali kepada karya-karya sastra Riau. Untuk itu semestinya sekolah dan madrasah-madrasah di Riau kembali mencari, memburu dan memasukkan buku-buku sastra yang lahir dari sastrawan Riau tersebut ke sekolah dan madrasah yang ada. Syukur-syukur para sastrawan diundang ke sekolah dan madrasah tersebut. Atau paling tidak, para kaum imaginator dan intelektual itu dijemput atau disertakan saat penggarapan film tersebut. Sehingga peserta didik tidak asing dan kenal serta akrab dengan kearifan dan kekayaan pikiran pengembaraan batin dunia Melayu Riau dengan segala pernak-perniknya.

Pelopor utama untuk itu adalah para guru bahasa Indonesia yang ada. Selain itu juga para guru seni budayanya. Tentu saja dukungan dari kepala sekolah dan madrasah, terutama Kepala Dinas Pendidikan dan Bidang Pendidikan Madrasah di Kemenag  Riau, Dewan Kesenian dan lembaga-lembaga budaya lainnya  juga sangat diharapkan.

Film pendek islami ini amat bermanfaat bagi pembentukan karakter anak bangsa ke depan. Kaum milenial yang gandrung pada dunia digital akan melahap makanan rohani ini sebagai asupan penyeimbang dari berbagai asupan budaya dan tradisi global yang bersemerak di dunia maya.

Selain itu, Kepala Bidang Penaiszawa Kanwil Kemenag dan lembaga dakwah yang ada, sudah saatnya menggarap wilayah digital ini agar generasi ke depan tidak berselancar kemana ia suka yang terkadang malah meninggalkan nilai agama, adat budaya dan nilai lokal yang ada sehingga mereka pada akhirnya tidak akan kehilangan identitas.

Upaya ini setidaknya menjadi setawar sedingin dalam menghadapi pemanasan budaya global yang kian membara, yang kian merisaukan dan meresahkan. ***

Baca : Musyawarah Melayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.