Tubuh dan Kepemimpinan (3)

TUHAN menciptakan manusia ke bumi memiliki dua tujuan khusus yaitu ‘abd Allah (Pelayan Ilahi) dan Khalifah fi al-Ardh (Timbalan atau wakil-Nya).  Artinya yang dikehendaki Tuhan kepada manusia adalah untuk beribadah (worship) dengan cara melayani-Nya (service).

Sebagai hamba atau pelayan Tuhan, sudah selayaknya dan semestinya ia tunduk, patuh dan taat kepada Tuhan sebagai Tuannya. Ketundukan dan kepatuhan tersebut dengan cara melaksanakan atau menjalankan segala aturan yang diperintah dan meninggalkan segala larangan Tuhan.

Sebagai khalifah fi al-Ardh ia merupakan pemimpin, pengayom, pelindung, pemelihara,. Seorang pemimpin hendaklah senantiasa adil. Ketidak-adilan merupakan akar tunggang segala persoalan dalam masyarakat. Ia menjadi bibit munculnya ketidak-percayaan masyarakat kepada pemimpinnya yang berujung pada makar, teror dan lain sebagainya. Kesejahteraan dan kemakmuran tidak boleh berat sebelah.

Seorang pemimpin mesti menghindari sindiran orang Melayu bahwa tiba di mata dipicingkan, tiba di perut dikempiskan, yaitu mesti adil. Setelah keadilan terlaksana maka kemakmuran akan terujud. Jika keadilan timpang maka segalanya menunggu perang.

…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Maidah: 8)

Selain adil, seorang pemimpin mesti kaya iman. Dan yang terpenting dari semua kekayaan yang dimiliki seorang pemimpin adalah kekayaan iman. Orang yang punya iman kuat dan mantap merupakan manusia yang paling kaya karena yang memiliki semua kekayaan adalah Sang Maha Kaya. Orang beriman adalah orang yang paling dekat dengan Sang Maha Kaya itu. Kalau ia dekat dan akrab tentulah akan dapat uluran dan anugerah apa saja dari Sang yang Maha Kaya itu.

Iman merupakan pondasi pertama dan utama kepemimpinan. Sejarah mencatat, pemimpin yang awalnya sukses menjadi khalifah fi al-ardh akan tergelincir dan binasa karena ketiadaan iman. Ia melupakan sumber kekuatan yang dimilikinya. Ia menyangka segala yang dimilikinya seolah-olah murtlak dari hasil capaian dirinya semata-mata. Akhirnya ia menghianati rakyat yang dipimpinnya dan kufur kepada Tuhannya. Ujung-unjungnya ia menyesal karena tenggelam dalam kehancuran. Namun sesal itu tak dapat membantunya untuk selamat dari karam kehinaan di ujung hayatnya. Contoh pemimpin seperti ini di antaranya adalah Firaun, Namrud dan lain-lain.

Manusia juga punya kaki. Artinya seorang pemimpin mesti mandiri. Kuat untuk berdiri memikul beban besar seluruh organ tubuh. Bukan hanya kuat tapi juga bertanggungjawab. Selain itu kaki juga punya tugas untuk bergegas, berlari mengikuti keinginan organ lainnya seperti kepala, hati dan perut. Segera atau tertundanya perintah semua perintah otak, hati dan syahwat perut tersebut bertumpu padanya.

Kaki juga lambang kemandirian. Kemandirian menjadi penting agar tidak mudah dipengaruhi dan diperdaya oleh orang lain. Kemandirian ini bersangkut kait dengan kekuasaan atau kekuatan (power) ekonomi, budaya, politik dan pertahanan keamanan.

Seorang pemimpin mesti kuat ekonominya, kaya wawasan kultural dan multi-kulturalnya, dalam (dignity) dan luas ilmu pengetahuan dan kepercayaannya kepada Tuhan. Dengan memiliki kekuatan atau power di bidang-bidang tersebut diharapkan ia akan mampu meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.

Menurut BJ Habibie, kualitasnya diukur dari ketentraman (human security),  kedamaian (peacefull), keadilan (justice), kesejahteraan (welfare) dan merata (equity of distribution).

Jadi, seorang pemimpin hakiki sejatinya menghadirkan ketentraman, kedamaian, keadilan, kesejahteraan dan kemerataan dalam masyarakatnya.

Hebatnya, semua hal yang berkait dengan kepemimpinan itu akan diminta  pertanggungjawabannya oleh Tuhan. Setiap kalian merupakan pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban dari kepemimpinannya. (HR: Bukhari dan Muslim)

Berat jadi tuan junjungan? Berat jadi pemimpin?

Kalau jawabannya iya, maka jangan berebut-rebut, jangan melakukan sesuatu yang tidak benar untuk meraih tampuk pimpinan, jangan menggunjing dan memfitnah orang lain untuk menduduki suatu jabatan, apalagi membelinya dengan harga ‘murah’ (kertas bertulisan angka-angka).

Belilah jabatan itu dengan ilmu (knowledge), wawasan (insight, concept dan perception), serta keahlian (skill). Selain itu, perkaya hati dengan menanam iman  yang kokoh sebelum menjadi pemimpin, sebelum menjadi tuan junjungan. Agar kepemimpinan menuai sukses. Agar memiliki derajat tinggi di sisi Tuhan dan manusia. Agar kepemimpinannya tak disebut orang-orang sesudahnya sebagai pewaris Fir’aun, Namrud dan penguasa zalim lainnya. Agar ia dapat mengikuti pemimpin idaman seperti Nabi Muhammad Saw, Nabi Sulaiman As, dan lainnya yang sebenar pemimpin, yang menyelamatkan masyarakatnya duniawi dan ukhrawi.

“Akhirat itu terlalu nyata, kepada hati yang tidak buta,” demikian pesan pujangga Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua Belas-nya..

Wallahu a’lam. ***

Baca : Tubuh dan Kepemimpinan (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.