Kezaliman (bagian II)

Negeri Para Perampok

PERILAKU Zalim, merupakan lawan dari perilaku Adil. Dalam istilah arab, kata zalim ini bermakna “gelap”. Sedangkan di dalam Alquran sendiri, penggunaan kata zhulm selaras dengan kata baghy, yang memiliki makna yang sama, yaitu melanggar hak orang lain. Dengan demikian, perilaku zalim juga bermakna perilaku yang merusak keadilan. Sebab, kata zalim bisa melambangkan sifat yang kejam, tamak, bengis, tidak berperikemanusaan, senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.

Terkait dengan sikap ini, dialog antara Nabi dengan shahabat berikut ini, menarik untuk direnungkan: “Qāla Rasūl Allāh ṣallallāhu ‘alaih wa sallam: “Unẓur akhāka ẓāliman aw maẓlūman.” Faqāla rajl: “Yā, Rasūl Allāh. Anẓurhu malūman, fakayfa anẓarhu ẓāliman?” Faqāla: “tamna‘hu ‘an al-ẓālim, fakadhālika naẓruka iyyāhu.”

Maknanya, kurang lebih sebagai berikut: telah berkata Rasulullah: “tolonglah saudaramu yang (berbuat) zalim dan dizalimi”. Maka seorang lelaki bertanya, “Ya, Rasulullah, Saya dapat menolongnya jika ia dizalimi. Akan tetapi, bagaimana saya menolong seseorang yang berbuat zalim?” Rasulullah menjawab: “Kamu harus mencegahnya dari perbuatan zalim, dengan demikian kamu telah menolongnya.” (Hadis dari Anas diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

Ini merupakan perintah Nabi yang kita muliakan. Bahwa jika ada saudara kita yang melakukan kezaliman, maka kita harus membantunya untuk menyelamatkannya. Sebab, hal ini merupakan bagian yang essensial dari bentuk penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang tidak boleh menindas dan tidak boleh pula ditindas. Firman Allah: “…. Kamu tidak boleh menindas, dan tidak boleh pula ditindas.” (Q.S. al-Baqarah: 279).

Sedemikian penting Islam melarang perilaku zalim ini, Allah pun membuka “ruang” bagi hambanya yang dizalimi untuk mengadu kepada-Nya dengan ungkapan-ungkapan buruk atas mereka yang menzaliminya. Misalnya, dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas disebutkan, Allah SWT tidak suka dengan doa yang berisi ungkapan buruk kepada siapa pun, kecuali dia dizalimi. Karena itu, Allah SWT mengizinkan doa tersebut diucapkan, tetapi hanya ditujukan kepada orang yang telah menzalimi dirinya. “Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. an-Nisa :148)

Tafsir al-Sa’di juga menyebutkan, dibolehkan bagi hamba untuk berdoa terhadap orang yang telah menganiaya dirinya selama hamba tersebut tidak berbohong atau tidak melebih-lebihkan penganiayaan yang dialami dirinya.

Sekali lagi, area yang sangat memungkinkan terjadinya kezaliman dan keadilan adalah kekuasaan. Keadilan merupakan kunci keberlangsungan suatu kekuasaan, dan sebaliknya, kezaliman merupakan virus utama yang menghancurkan kekuasaan itu. Al-Ghassani, seorang ahli sejarah Arab klasik mengatakan, “Kekuasaan bisa bertahan dalam kekafiran, tapi tidak akan bertahan dalam kezaliman.”

Sejarah kekuasaan dalam Islam, menggambarkan secara nyata hal demikian itu. Bahwa setiap perilaku yang bertentangan dengan asas keadilan akan tersingkir, sebab dunia ini berjalan berdasarkan asas keadilan. Kita perlu berkaca, betapa banyak pemimpin yang jatuh atau dijatuhkan akibat ketidakadilan mereka dalam menjalankan amanat.

Namun sayangnya, terkadang ketika ada di antara kita akan “membantu” agar terhindar dari sikap zalim tersebut, sebagai bentuk kecintaan akan saudaranya, sebagaimana perintah Nabi di atas, ia justru dianggap sebagai “musuh”. Mereka di anggap merusak “kenyamanan” yang ia peroleh saat berkuasa. Upaya-upaya untuk menuntut keadilan, justru dianggap sebagai “pemberontakan”.

Begitu pula, yang terjadi saat ini, narasi “zalim” juga sering digunakan untuk melakukan “jihad” melawan penguasa. Dasar yang digunakan mereka adalah “Telah diizinkan untuk mengangkat senjata disebabkan mereka telah diperangi karena sesungguhnya mereka TERZALIMI. Dan Allah Maha Kuasa menolong mereka.” (QS. Al-Hajj:39) Terzalimi telah menjadi syarat utama diizinkannya umat Islam berperang (mengangkat senjata). Wallahu a’lam bi Al-Shawab. ***

Baca: Islam Wasathiyyah