Ketika Belajar tak lagi Bahagia

Pemuda

SUDAH lama kita mendengar beragam kritik terhadap cara belajar dalam system Pendidikan kita. Bisa jadi kita sendiri pernah mengalaminya. Belajar seperti beban yang menggunung,“di otak” kita. Sejak masuk SD, kita dihadapkan dengan berbagai“tugas” yang layaknya orang dewasa. Tugas Rumah yang menumpuk, hafalan berlembar-lembar dan tuntutan-tuntutan lain yang membuat anak-anak kita terkadang“malas-malasan”untuk pergi ke sekolah.

Belajar seringkali dimaknai dengan menguasai “semua Pelajaran”. Kemampuan “mengkonsumsi” sebanyak-banyaknya Pelajaran di sekolah, dengan indikasi tidak memperoleh nilai rendah pada saat ulangan atau ujian, seringkali dianggap sebagai tujuan belajar. Nilai yang jelek sama dengan “bodoh”. Beban ini, sepertinya sudah menjadi mata rantai yang saling terkait; sekolah, orang tua, dan guru.

Sekolah ingin lembaganya terkenal dengan nilai rata-rata ujian akhir siswanya. Semakin tinggi, maka semakin benefit sekolahnya. Guru dipaksa untuk meraih tujuan sekolah. Orang tua pun bangga, jika nilai anaknya tinggi. Klop sudah. Tidak heran, jika cara-cara “kotor” sering kali terjadi pada proses itu. Hanya karena “gengsi” sekolah, guru dan orang tua, anak justru yang menjadi “korban”.

Kondisi di atas, diperberat oleh anggapan bahwa menghafal seolah menjadi “obat paling mujarab” untuk memahami Pelajaran. Maka, model-model pembelajarannya pun mendorong langgengnya hafalan. Doktrinasi merupakan metode yang “haram” untuk ditinggalkan; guru ceramah, siswa mendengar dan mencatat. Tidak ada problem solving, tidak ada dialog, apalagi debat.

Nyaris anak-anak kita tidak memperoleh kebahagiaan. Proses pembelajaran sangat menegangkan. Belajar seperti dibalik jeruji. Dari bangun untuk berangkat sekolah hingga mau tidur malam, terus dihantui oleh sekolah dan hafalan. Sehingga kita dan sekolah sendiri bingung, minat dan bakat anak kita sesungguhnya apa?

Para guru tidak sempat lagi berinovasi. Mereka disibukkan oleh kewajiban-kewajiban yang bersifat administrative procedural, agar gaji dan tunjangan mereka tidak terlewat. Sehingga tidak sempat lagi untuk “membahagiakan” para peserta didiknya.

Dalam perspektif psikologi, suasana yang membahagiakan itu akan mendorong seseorang pada kondisi yang selalu menyenangkan ketika berinteraksi secara interpersonal; mudah tersenyum, cenderung menyenangkan dan seru ketika berinteraksi dengan sesamanya.

Begitu pula, seseorang yang didukung oleh suasana yang riang dan gembira, justru akan meningkatkan imajinasi kreatif dari dirinya, sehingga ia mampu mengatasi persoalan sehari-hari dengan mudah. Sebab, orang Bahagia itu cenderung terbuka, memberikan ruang bagi orang lain untuk bisa mengeksplorasi lebih mendalam, dan tidak memandang rendah pandangan orang lain.

Kondisi yang bertolak belakang adalah mereka yang ditempa oleh kondisi yang “kurang Bahagia”. Ia akan cenderung diam dan kaku (Ritter & Ferguson, 2017). Ia akan mudah marah dan menjadi orang pendendam. Jika demikian, kiranya menjadi benar dengan adagium atau seloroh, yang menyebutkan “Jika kurang Bahagia di rumah, pasti tidak akan menyenangkan di kantor”.

Kekerasan demi kekerasan yang seringkali muncul di kalangan para pelajar kita, jangan-jangan didorong oleh kondisi “belajar” mereka yang begitu menyesakkan dan kurang membahagiakan. Praktek bullying yang terus menjamur di ruang-ruang kelas dan di sekolah-sekolah, akibat kurangnya rasa Bahagia dan menyenangkan dalam proses belajar mereka.

Sesungguhnya, UU Negara kita, terutama pada UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, telah mengamanahkan kepada kita semua bahwa “guru dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana Pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis”.

Pun begitu dalam PP No. 19 tentang standar Pendidikan Nasional pasal 19 ayat 1 menegaskan dengan gambling bahwa “proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, memberikan ruang gerak yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik, serta psikologi siswa”.

Bahkan jauh dari itu semua, Nabi yang mulia, Muhammad SAW., ketika ditanya oleh salah seorang shahabat tentang amalan apa yang paling baik; Nabi menjawab hadirkan rasa Bahagia di hati seorang mukmin, engkau lepaskan kesulitannya, dan engkau lunasi hutang-hutangnya”.

Bukankah hasil akhir dari setiap orang yang beragama, mengharapkan kebahagiaan? Banyak sekali ayat yang menjelaskan bahwa semua ketaatan kita kepada Tuhan, akan memberikan dampak kebahagiaan. Tuhan saja begitu menginginkan kita semua makhluqnya berbahagai, lalu kenapa kita begitu gampang membuat orang lain menangis dan menderita? Wallahu a’lam bi al-Shawab. ***

Baca; Negara dan Kekerasan

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews