Palestina; Nasibmu Kini

Pemuda

TIDAK ada penderitaan yang begitu nyaris “telanjang” terlihat, selain perjuangan warga Palestine atas kemerdekaan negaranya. Penderitaan itu, sudah berlangsung sejak tahun 1948, tiga tahun setelah Indonesia memproklamirkan diri menjadi negara Merdeka. Konon, pada waktu itu Palestina adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI.

Namun demikian, jika dirunut jauh kebelakang. Embrio munculnya konflik ini sudah ada pada tahun 1917, tepatnya tanggal 2 November 1917. Saat itu, Arthur Balfour, Menteri Luar Negeri Inggris, memberikan “janji” kepada Lionel Walter Rothschild, seorang tokoh komunitas Yahudi Inggris “mendirikan rumah nasional bagi orang-orang Yahudi di Palestina”. Dan Inggris akan memfasilitasi “pencapaian tujuan ini”. Surat tersebut dikenal dengan Deklarasi Balfour.

Deklarasi ini kemudian membangkitkan Gerakan Zionis di negara Palestina, yang pada saat itu 90% penduduknya adalah asli Arab Palestina.

Terjadilah eksodus besar-besaran, orang Yahudi ke Palestina. Lebih-lebih ketika eksodus ini, difasilitasi oleh Inggris, maka migrasi massal orang Yahudi ke Palestina itu pun terjadi. Dalam gelombang migrasi ini, tentu membangkitkan perlawanan warga Palestina yang merasa terancam oleh kehadiran orang-orang Yahudi ini.

Hingga pada tahun 1947, jumlah populasi penduduk Yahudi di Palestine sudah mencapai 33%. PBB kemudian menawarkan pembagian wilayah, 56% untuk Yahudi dan sisanya untuk Warga Palestina. Tawaran yang jelas-jelas merugikan ini, tentu saja ditolak oleh warga Palestina.

Sejak saat itu, berbagai macam peristiwa yang melibatkan terbunuhnya warga Palestina pun terjadi. Mulai peristiwa Nakba (“bencana” dalam Bahasa Palestina), yang mengakibatkan terbunuhnya 15.000 warga Palestina, termasuk dalam puluhan pembantaian yang dilakukan oleh Yahudi. Insiden ini juga membuat Gerakan Zionis, menguasai 78% wilayah bersejarah Palestina. Sisanya yang sebesar 22% dibagi menjadi wilayah yang sekarang menjadi Tepi Barat yang diduduki dan Jalur Gaza yang terkepung.

Pada 5 Juni 1967, Israel kemudian menduduki sisa wilayah bersejarah Palestina, termasuk Jalur Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, Dataran Tinggi Golan Suriah, dan Semenanjung Sinai Mesir selama Perang 6 Hari melawan koalisi tentara Arab. Peristiwa ini, oleh orang Palestina disebut dengan hari Naksa, hari “Kemunduran” karena telah terjadi perpindahan warga Palestina secara paksa.

Mulailah babak baru, di mana warga Palestina dikuasai oleh Israel. Sistem dua tingkat diciptakan di mana pemukim Yahudi diberikan semua hak dan keistimewaan sebagai warga negara Israel sedangkan warga Palestina harus hidup di bawah pendudukan militer yang mendiskriminasi mereka dan melarang segala bentuk ekspresi politik atau sipil.

Dalam situasi seperti itu, letupan-letupan perlawanan warga Palestina sering kali terjadi. Dan itu tidak sedikit memakan korban nyawa warga Palestina. Sebut saja misalnya adanya istilah “intifada”, perlawanan. Selama peristiwa ini, sebanyak 1.070 warga Palestina dibunuh oleh pasukan Israel, termasuk 237 anak-anak. Lebih dari 175.000 warga Palestina ditangkap.

Tidak dapat rasanya untuk membayangkan bagaimana penderitaan yang dialami oleh warga Palestina, hari demi hari. Sepertinya sudah lumpuh rasa kemanusiaan di sana.

Saat ini, serangan yang begitu brutal dilakukan kembali oleh zionis Israel di Jalur Gaza. Hingga menewaskan ratusan orang termasuk anak-anak, serta melukai ribuan warga Palestina bahkan warga negara lainnya.

Uniknya, negara-negara Arab yang nota bene merupakan negara Islam, justru melakukan pembiaran atas konflik yang terus memakan korban itu. Seakan-akan negara-negara Arab mejadikan perang itu, sebagai sebuah keuntungan supaya harga minyak melambung tinggi. Wallahu a’lam bi al-Shawab. ***

Baca: Ketika Belajar tak Lagi Bahagia

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews