Sepenggal Kisah Kontingen MTQ Meranti, dari Minta Sumbangan Dijalan Hingga Peserta Rangkap Pelatih

LAMANRIAU.COM, SELATPANJANG – Kontingen MTQ Kabupaten Kepulauan Meranti telah tiba di Selat Panjang. Mereka tiba dengan kepala tegak membawa kebahagiaan untuk masyarakat Meranti.

Banyak kisah yang terjadi sebelum pemberangkatan khafilah ini untuk berlomba di MTQ XL 2022 Rokan Hilir

Persiapan untuk ikut sudah dilakukan jauh hari. Ada lomba MTQ tingkat kabupaten. Lalu terpilih Qori dan Qoriah yang akan dikirim, jumlahnya 14 peserta dan 9 official.

Tapi asa mereka nyaris hilang. Tiba-tiba Bupati Kepulauan Meranti H Muhammad Adil SH MM membatalkan keikutsertaan khafilah dari Meranti.

Alasannya kemampuan qori dan Qoriah masih minim untuk berlaga di tingkat provinsi. Alasan lain, tidak ada anggaran untuk keikutsertaan di MTQ XL tingkat provinsi.

“Kita tunda dulu menjelang kita yakin siap,” kata Bupati M. Adil waktu itu.

M.Adil, meminta Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kepulauan Meranti untuk memanggil qari-qariah terbaik di Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan keahlian anak-anak Meranti dalam membaca Alquran.

“Nanti para juara MTQ tingkat kecamatan akan dilatih lagi oleh qari terbaik. Sudah hebat baru kita kirim ke luar,” ujarnya.

Kebijakan Bupati itu membuat masyarakat Meranti kecewa. Bahkan ada yang marah.

Marah dan kecewa tentu ada sebab. Dalam pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi Riau, kontingen Meranti selalu diperhitungkan daerah lain. Kabupaten Kepulauan Meranti sempat tiga kali berturut turut juara umum dua mewakili Riau di MTQ Nasional di Padang, Sumatra Barat 2020.

Lalu tahun 2016, enam qari dan qariah asal Meranti dikirim mewakili Riau untuk ikut MTQ Nasional Lombok NTB.

Agar rombongan tetap berangkat, para tokoh, ormas pemuda dan mahasiswa bergerak mengumpulkan sumbangan di jalan.

Koordinator penggalangan dana, Sugianto menyebutkan mereka bergerak karena kerisauan atas sikap Pemkab.

“Penggalangan donasi muncul karena ada rasa kerisauan. Kita melihat Pemkab Kepulauan Meranti tidak mengirimkan kafilah. Anggota Pemuda Pancasila, awak media, mahasiswa kami libatkan untuk menghimpun dana. Alhamdulillah pengusaha dan warga nonmuslim pun berpartisipasi ikut membantu. Apa yang kami lakukan hanyalah untuk menjaga semangat para kafilah dan marwah negeri. Semoga apa yang kami lakukan bisa bermanfaat,” ucapnya waktu itu.

Dari gerakan itu, terkumpul donasi sebanyak Rp 41 juta.

Waktu keberangkatan semakin mepet. Uang yang terkumpul belum cukup untuk memberangkatkan 23 orang.

Jelang keberangkatan datang info. Beberapa peserta dan official membatalkan diri untuk ikut. Mungkin disebabkan tidak ada kejelasan dari Pemkab. Mereka yang siap tinggal 10 orang, 7 peserta dan 3 official.

Dengan uang terkumpul Rp41 juta dan jumlah khafilah 10 orang, jadilah khafilah Meranti berangkat.

“Anggaran yang ada menjadi cukup untuk mengakomodir semua kebutuhan kafilah. Setiap peserta kita bekali uang saku per orangnya sebesar Rp1,5 juta,” pungkasnya.

Di lokasi lomba MTQ, anggota tim bahu membahu menyelesaikan kendala. Mereka bertekad membawa pulang piala ke Meranti.

Tujuh peserta, tujuh bidang lomba yang diikuti. Tiga official tidak cukup mendampingi semua peserta. Akhirnya ada peserta yang bantu official, ada juga merangkap pelatih untuk anggota tim lain.

Seperti yang dikatakan Eko Sarjono. Eko Sarjono adalah juara 1 Tartil Qur’an 5-10 juz cabang Qiroat Mujawad.

“Selain menjadi peserta, kami juga dipaksakan harus merangkap sebagai ofisial sekaligus pelatih. Kami tak ada pelatih. Ofisial kurang karena memang keberangkatan kami tidak didukung pemerintah,” kata kepada wartawan, Sabtu, 30 Juli 2022.

Semua tidak lain untuk Marwah. Agar semua peserta bisa juara.

“Alhamdulillah kami juara. Apalagi berlaga mandiri tanpa dukungan pemerintah seperti peserta dari daerah lain,” tambahnya.

Sekarang mereka telah jadi pahlawan masyarakat Meranti. Mereka menjawab jerih payah orang-orang yang berjibaku mengumpulkan uang agar mereka bisa berangkat.

Tujuh peserta, tujuh juara. Empat juara 1, dua orang juara 2 dan satu orang harapan dua. Ending yang manis.

Redaktur: Denni Risman