Kajian  

Ibnu Ummi Maktum, Inspirasi dalam Meniti Ilmu

Ibnu Ummi Maktum, Inspirasi dalam Meniti Ilmu

LAMANRIAU.COM, PEKANBARU – Islam memuliakan para pencari ilmu. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, terdapat sebuah peristiwa yang mengisyaratkan betapa Allah memandang pentingnya thalabul ‘ilm daripada kedudukan sosial-politik seseorang.

Ihwal itu terkait dengan seorang sahabat Nabi yang mengalami disabilitas netra, Abdullah alias Ibnu Ummi Maktum. Suatu kali, sang sahabat hendak menemui Rasulullah SAW untuk menanyakan suatu hal mengenai persoalan agama.

Dari rumahnya, lelaki dengan keterbatasan penglihatan itu terus berjalan. Dengan niat menuntut ilmu agama, ia terus melangkahkan kakinya. Kedua matanya mungkin buta, tetapi mata hati dan kesadarannya begitu awas dan bersemangat tinggi.

Seperti dikisahkan Abdurrahman Raf’at al-Basya dalam buku Sosok Para Sahabat Nabi, tepat ketika Ibnu Ummi Maktum tiba, Rasulullah SAW sedang menerima sejumlah tamu. Mereka adalah sejumlah tokoh kabilah-kabilah penting Arab.

Dalam kesempatan itu, Rasulullah SAW menjawab pertanyaan mereka dan mengajak mereka masuk Islam. Keislaman mereka, bila terjadi, tentunya bisa mengubah peta dakwah. Minimal, gangguan-gangguan terhadap syia Islam akan berkurang.

Ya, ketika Rasulullah SAW sedang sibuk-sibuknya itu, datanglah Abdullah bin Ummi Maktum. Sang sahabat berkata. “Ya Rasulullah, ajarilah saya apa yang Tuhanmu ajarkan kepada Anda.”

Pertanyaan dari Ibnu Ummi Maktum itu memecah konsentrasi Rasulullah SAW, yang sedang berhadapan dengan para tokoh Arab itu.

Untuk sesaat, tampak Rasul SAW merasa terganggu. Beliau melirik sebentar ke arah Ibnu Ummi Maktum, tetapi kemudian memalingkan, muka tanpa bersuara. Perhatiannya lalu kembali terpusat pada para tamu, yang adalah kaum bangsawan itu.

Pada momen itulah, turun wahyu kepada Nabi SAW. Kalamullah itu ialah surah ‘Abasa. Artinya, “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum). Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya.”

Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang dia takut (kepada Allah), engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan.”

Maka barang siapa menghendaki, tentulah ia memerhatikannya di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan di tangan para utusan malaikat yang mulia lagi diberkati.”

Sejak itulah Rasulullah makin menghormati Abdullah Ibnu Ummi Maktum. Nabi SAW melayani tiap pertanyaan yang diajukan oleh sahabat yang tidak memiliki penglihatan tersebut.

Turunnya surah Abasa itu, di sisi lain, juga menandakan kebenaran bahwa Alquran sungguh-sungguh merupakan Kalamullah, bukan buatan insan bernama Muhammad SAW. Bila dianggap bahwa Alquran merupakan karya Rasulullah SAW, bagaimana mungkin ada sebuah surah yang jelas-jelas menegur “penulisnya”?

Keterbatasan Bukan Jadi  Kendala

Selain semangat berilmu, Ibnu Ummi Maktum juga memiliki spirit pejuang fii sabilillah. Walau dengan kondisi keterbatasan fisik, tetap dirinya berniat tulus untuk ikut dalam pasukan Muslimin.

Usai Perang Badar, Allah menurunkan ayat tentang kedudukan tinggi mujahidin dan mengutamakan mereka di atas orang-orang lain. Ini memberi dorongan semangat dalam jihad.

Namun, keistimewaan tersebut tentu menjadi pertanyaan dan keresahan tersendiri bagi mereka yang beruzur akibat cacat fisik. Seperti halnya Ibnu Ummi Maktum. Ia pun langsung mengadukan kekhawatirannya kepada Rasulullah sambil berderai air mata.

“Ya Rasulullah, kalau saja mampu niscaya saya akan berjihad.” katanya.

Mendengar perkataan lirih Abdullah itu, Rasulullah SAW tak kuat melihat kesedihan sahabatnya, yang ingin berjihad, tetapi tidak bisa sebab ketidaksempuranaan fisik. Beliau lalu berdoa, memohon petunjuk Allah.

“Ya Allah, turunkanlah ayat-Mu yang memberikan alasan yang membebaskanku.”

Seketika, Allah mengabulkan doa Rasulullah SAW sebelum beliau menurunkan tangannya yang sedang menengadah ke atas.

Zaid bin Tsabit mengisahkan momen ini, “Suatu hari aku berada di sisi Rasulullah. Tiba-tiba beliau merasa seperti dihinggapi sesuatu sehingga sejenak berdiam diri. Setelah pengaruh berat dari (turunnya) wahyu itu lenyap, beliau bersabda.

‘Wahai Zaid, tulislah.’ (Artinya) ‘Tidak sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya, Allah melebihkan orang-orang yang duduk satu derajat.

Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.’” (QS an-Nisa: 95).

Setelah mendengarkan wahyu itu, Abdullah bin Ummi Maktum langsung bertanya. “Ya Rasulullah bagaimana dengan orang yang tak punya kemampuan berjihad?”

Rasulullah lalu memerintahkan Zaid yang menuliskan wahyu. “Bacalah apa telah kau tulis wahai Zaid?”

“Tidak sama antara mukmin yang duduk yang tidak ikut berperang,” kata Zaid

Ayat ini memberi pengecualian bagi mereka yang beruzur untuk ikut berperang. Mereka dibebaskan dari kewajiban berperang.***

Editor: Fahrul Rozi/Penulis: M.Amrin Hakim

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews