“Mí Último Adiós”

Sastrawan

Mí Último Adiós.
Beberapa hari menjelang kematiannya, pahlawan besar Filipina, José Protasio Rizal Mercado y Alonso Realonda, menulis sebuah puisi yang kemudian menjadi sangat terkenal ke seantero dunia. Berikut ini penggalan (bait 1, 12, 13, dan 14) terjemahannya dalam Bahasa Indonesia (dikutip dari Imagined Communities, 2001: 216-217 catatan kaki; yang oleh penerjemahnya disebut sebagai “Adaptasi dalam bahasa Indonesia”) :

1. Selamat tinggal, Tanah tercinta, kesayangan mentari,
Mutiara lautan Timur, Kahyangan yang hilang!
Demi kau jiwa-raga kupasrahkan, dengan rela hati;
Andai ‘ku lebih indah, lebih segar, lebih utuh dari ini,
‘Kan kuserahkan jua, padamu ‘tuk kebahagiaanmu …

[….]

12. Bila kau lupakan aku, apalah artinya, jika
‘Ku bisa susuri tiap jengkal tercinta relungmu?
Jadilah seutas nada, berdenyut dan murni; sesudahnya
Jadilah aroma, cahya, senandung; lagi jadilah tembang atau tanda;
Dan melalui semua, lagukan kembali keyakinanku.

13. Tanah pujaan, dengarkan selamat tinggalku!
Filipina Cintaku, dukamu sangat laraku jua,
Kutinggalkan kalian semua, yang sangat kucintai;
‘Ku pergi ke sana, di mana tiada hamba tiada tiran berada,
Di mana Keyakinan tiada merenggut nyawa, dan Tuhan mahakuasa beradu.

14. Selamat tinggal segala yang dimengerti jiwaku –
Ya sanak-saudara tanah-airku yang dirampasi;
Syukurilah berakhir hari-hari tertindasku;
Selamat tinggal, engkau yang asing nan manis, sukacita dan sahabatku;
Selamat tinggal, orang-orang yang kucintai. Mati hanyalah tetirah ini.

Puisi sepanjang 14 bait stanza ini sebenarnya tidak berjudul. Mariano Ponce [Wikipedia menyebut JP Braga], sahabat José Rizal dan juga pengikut Reformasi Filipina yang dicanangkannya, menerima salinan puisi ini dari keluarga sang pahlawan dan kemudian mencetaknya di Hongkong dengan judul “Mí Último Pensamiento” pada tahun 1897. Fr Mariano Dacanay kemudian mempublikasikannya dalam La Independencia edisi 25 September 1898 dengan judul “Último Adiós”. Sementara itu dalam tradisi kesusastraan, bila ditemukan sebuah puisi tanpa judul [entah oleh sebab tertentu], lazimnya orang akan memberinya judul sesuai dengan baris pertama puisi tersebut, sekadar untuk kepentingan identifikasi (bukan untuk melangkahi “kuasa” pengarang/penyair). Maka dalam hal ini, Mí Último Adiós “harusnya” berjudul “Adiós, Patria Adorada”. Tapi hal itu tak pernah terjadi.

Puisi ini ia tulis beberapa hari menjelang ajal menjemputnya pada 30 Desember 1896 pukul 07:00, dalam usia yang terhitung masih sangat muda, 35 tahun, dengan hukuman tembak mati melalui regu eksekusi [yang mirisnya adalah orang Filipina sendiri, di bawah perintah penguasa kolonial Spanyol]. Ia menghadapi eksekusi itu dengan penuh keberanian, menolak untuk ditutup matanya “agar bisa melihat indahnya langit untuk terakhir kalinya”. Beberapa waktu menjelang kematiannya itu, pria santun ini juga sedang berusaha belajar menguasai Bahasa Melayu.

José Rizal adalah seorang yang sangat luar biasa. Di samping sebagai seorang sastrawan [kadang ia menggunakan namapena Dimasalang, Laong Laan, atau May Pagasa], penyandang dua gelar doktor ini juga adalah seorang polymath yang menguasai bidang-bidang ilmu kedokteran khususnya oftalmologi (kedokteran mata, sempat mengoperasi mata ibunya yang buta yang menjadi sebab ia memilih keahlian itu), seorang filsuf, sejarawan, antropolog/etnolog, pendidik/pengajar, sosiolog dan ekonom, surveyor/kartograf, ahli pertanian, dramawan, pelukis, sketsais, pematung, jurnalis, dan ahli seni bela diri [kalau hare gene orang yang punya banyak keahlian begitu malah “dicurigai” dan dianggap tidak memiliki otoritas keilmuwan apa pun, sebab ilmu konon semakin terfokus dan terspesialisasi, hingga mungkin 10 tahun lagi misalnya dokter gigi pun akan ada yang hanya spesialis gigi geraham yang tak diberi otoritas untuk menangani yang lainnya; dan di Indonesia dia mungkin akan menyandang gelar: drg. [nama], Sp.GG.]. Dia juga adalah seorang poliglot, yang mahir lebih dari 10 bahasa!! (Wikipedia menyebutkan 22 bahasa!!!). Tetapi bukan karena puisinya itu José Rizal menjadi musuh utama, tokoh radikal, bagi Spanyol yang telah menjajah Filipina selama lebih dari 3,5 abad, melainkan terutama novel-novelnya Noli Me Tangere (1887), dan El Filibusterismo (1891), serta esai-esai dan artikel opininya.

Dalam perjuangannya untuk Rakyat Filipina, José Rizal menyerukan upaya Reformasi dalam sistem pemerintahan kolonial Spanyol di Filipina. Ia menganjurkan kebebasan berkumpul dan mengeluarkan pendapat, serta hak yang sama di depan hukum. José Rizal pernah diasingkan oleh pemerintah kolonial Spanyol ke Dapitan, Mindanao. Namun, dalam masa pengasingannya selama 4 tahun itu, dia bukannya sekadar diam merenungkan nasibnya, justru dia berhasil melakukan berbagai kegiatan yang mengangkat kehidupan masyarakat sekitaran. Dia membangun dan mengajar di sekolah, mereformasi pertanian dan hortikultura, membangun jaringan irigasi dan air bersih, rumah sakit, dan lain-lain.

Sebagian sejarawan berpendapat José Rizal sebenarnya tak pernah menyatakan apa pun soal kemerdekaan Filipina. Dalam agenda Reformasinya, ia hanya menuntut kedudukan Filipina sebagai sebuah provinsi yang langsung di bawah Spanyol, bukan New Spain (sekarang Meksiko), bersama beberapa agenda Reformasi lainnya yang telah disebut di atas.

Sumbangan terbesar tokoh kharismatik ini dalam perjuangan kemerdekaan Filipina sebenarnya adalah ia telah berhasil mempelopori dan membentuk rasa kebangsaan bagi sekumpulan masyarakat yang hidup di wilayah kepulauan yang kemudian dikenal sebagai Filipina itu [seperti yang kemudian “ditiru” oleh Soekarno dkk setengah abad kemudian]. Itulah sebabnya ia juga digelari sebagai Bapak Nasionalisme Filipina.

Benedict Anderson dalam Imagined Communities (2001: 217) itu menuliskan: “Perhatikan bahwa, bukan saja kebangsaan sang ‘tiran’ (opresores) tak disebutkan oleh Rizal, tapi juga patriotisme sang sastrawan-pejuang (Filipina) yang menggelegak itu terungkap indah melalui bahasa ‘mereka’ yang menindasnya (Spanyol). | Sesuatu yang termasuk intisari cinta politis ini dapat dibaca dari cara-cara bahasa menuturkan objeknya: entah dalam khasanah kata yang merujuk kekerabatan (ibu, pertiwi, vaterland, patria), atau yang mengacu pada ‘rumah’ [….] Dua idiom tadi mencandrakan sesuatu ‘pada apa seseorang terikat secara alamiah’.”

Yang juga sangat menarik adalah bagaimana José Rizal juga memperoleh pengakuan sebagai “The Pride of The Malay Race” atau “Kebanggaan Ras Melayu”, atau ada juga yang menyebutnya sebagai “Bapak Bangsa Melayu”. Tapi ini akan kita bahas di lain waktu.

Terakhir, untuk menambah rasa elok juga kami lampirkan versi Bahasa Spanyol dari puisi “Mí Último Adiós” itu (yang juga dikutip dari Imagined Communities, 2001: 215-216) :

1. Adiós, Patria adorada, región del sol querida,
Perla del mar de oriente, nuestro perdido edén,
A darte voy alegre, la triste mustia vida;
Y fuera más brillante, más fresca, más florida,
También por ti la diera, la diera por tu bien …

[….]

12. Entonces nada importa me pongas en olvido:
Tu atmósfera, tu espacio, tus valles cruzaré;
Vibrante y limpia nota seré par tu oído;
Aroma, luz, colores, rumor, canto, gemido,
Constante repitiendo la esencia de mi fé.

13. Mi patria idolatrada, dolor de mis dolores,
Querida Filipinas, oye el postrer adiós.
Ahí, te dejo todo: mis padres, mis amores.
Voy donde no hay esclavos, verdugos ni opresores;
Donde la fé no mata, donde el que reina es Dios.

14. Adiós, padres y hermanos, trozos del alma mía,
Amigos de la infancia en el perdido hogar;
Dar gracias, que descanso del fatigoso día;
Adiós, dulce extranjera, mi amiga, mi alegría,
Adiós, queridos séres. Morir es descansar.***

Baca : Semesta Sastra (2)

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *