Perut

Guru

Bismillah,
”Makanya, jaga perut kita. Tahan kehendak perut. Tapis perut kita dari kotoran dan longkang,” Emak berpesan kepada Hamba. ”Teladanlah Abahmu. Beliau berhempas pulas dan bermandi peluh mencari nafkah untuk mengisi perut kita.”

Hamba jadi kecut. Entah makanan dan minuman apa yang Hamba sumbat ke perut sehingga sakit melilit. Hamba takut telah memasukkan sampah di dalam perut. Hamba pun tak ingat apakah telah minum longkang. Tak ada rasa manis dan nikmat seperti hilang berkah.

Betapa banyak orang mencari cahaya, tetapi terhalang oleh makanan dan minuman yang ada di dalam perutnya. Kotoran dan longkang di dalam perut telah menjadi tembok gerhana. Tembok gerhana itu bagai awan mendung yang tebal menghalangi cahaya matahari.

Perut laksana bejana. Bejana terburuk yang kita isi dalam kehidupan adalah perut. Perut kita selalu tak cukup hanya untuk menegakkan tulang punggung. Tak perlu mengisi perut kita dengan gaya hidup. Tak juga perlu menyumbat perut dengan rasa gengsi. Dalam keyakinan Hamba, bejana terburuk ini tak boleh diisi terlalu penuh. ”Apabila perut terlalu penuh / Keluarlah fiil yang tiada senonoh,” begitu Raja Ali Haji berpesan dalam Gurindam Duabelas, Pasal Ketiga, Ayat Kelima.

Semoga Hamba dihindarkan dari perut buncit. Hamba takut dicap sebagai orang yang banyak makan. Rakus. Tamak. Haloba. Malas. Hambat takut keluar fiil yang tak senonoh. Hamba takut payah melaksanakan salat. Gegara perut, Hamba takut perut panjang sejengkal. Hati jadi kecewa.

Abah peduli perut kami. Abah pemimpin. Kami rakyatnya. Hamba berharap pemimpin peduli perut rakyat seperti Abah. Isi perut berkaitan dengan kedaulatan rakyat. Kelaparan berkaitan dengan ketidakberdayaan. Kata Bung Hatta, agar perut rakyat terisi, kedaulatan rakyat perlu ditegakkan. Rakyat hampir selalu lapar bukan karena buruk atau alam miskin, melainkan rakyat tidak berdaya.

Hamba selalu melihat derita perut. Selain derita lapar, perut pun ditusuk politik. Orang-orang mencuri suara melalui perut-perut kosong. Orang-orang itu menyelinap ke kampung-kampung mencari perut-perut lapar. Mereka keluar-masuk lorong untuk menyumbat perut-perut rakyat demi suara-suara. Hamba jadi paham bahwa politik itu adalah urusan perut.

”Perut yang kosong bukanlah penasihat politik yang baik,” kata Albert Einstein.

Perut telah mengubah hati menjadi rakus. Perut juga yang telah mengubah mata menjadi pisau. Jika perut kita perturutkan, takdir buruk akan menghampiri bagai badai. Bahkan, gegara perut, sastrawan, politikus, pemimpin, dosen, dan kita bisa jadi subjektif, hilang idealis, dan irasional. Perut bisa mencabik ide. Perut bisa menikam rasa. Perut mampu mengoyak mulut. Perut pun sanggup menggiling apa saja dan menggiring kita ke mana saja, termasuk Laila.

Laila seorang tokoh dalam cerpen pilihan Kompas (2015) bertajuk Menjaga Perut karya Adek Alwi. Laila punya kemahiran memasak yang hebat. Semua tamu memuji masakannya jika dijamu. Kata Ayah dengan tokoh Aku, cinta lelaki kepada perempuan diawali dari tengah, dari perut. Karena perut itu pusat, keseimbangan. Penyakit asalnya dari perut. Pun nafsu, keserakahan. Karena itu, perut harus kita jaga dengan makanan sehat sekaligus sedap.

”Apa kitanya yang kerap ia santap di luar rumah, lalu menjelma nafsu serakah, mengalir dalam darah? Mengapa tak ia jaga lambungnya, perutnya, seperti ayah, juga kakeknya? Seberapa banyak, seberapa lama, seberapa parah gerangan yang ia lahap di luar, sampai-sampai yang berasal dari masakan ibunya di masa kecil, atau dari istrinya kini, seolah tidak berbekas?”

Berbeda dengan tokoh Akmal dalam cerpen Perut. Tokoh dalam kumpulan cerpen Hikayat Kampung Asap (2010) ini adalah seorang dokter. Akmal melakukan penelitian tentang wabah penyakit mematikan yang melanda dunia. Untuk menuntaskan penelitiannya, Akmal melakukan perjalanan ke beberapa negara. Dia mengalami hal yang tak terduga. Perutnya selalu mual. Akmal muntah melambak-lambak. Dia merasa jijik dengan kebiasaan kehendak perut yang dilakukan oleh warga negara penyebar wabah itu.

”Tuan-Tuan, perang dan kehendak perut telah menyebabkan kemunculan sars. Di masa yang katanya modern ini, orang atau negara justru menghalalkan segala cara. Kehendak perut makan sesuka hati….Semuanya dengan kilah untuk kesehatan,” begitu penjelasan Akmal.

Namun, perut tidak bisa kosong. Perut mesti diisi dengan makanan sehat dan sedap lahir-batin. Perut kosong pun memberikan dampak yang kurang baik bagi kita. Kata George Eliot, tidak ada orang yang bisa bijak dengan perut kosong. Namun, George Bernard Shaw berujar, ”Saya tidak ingin membuat perut saya menjadi kuburan hewan yang mati.”

Sekali lagi, apabila perut terlalu penuh, keluarlah fiil yang tiada senonoh.***

Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 15 Rabul Awal 1444 /11 Oktober 2022

Baca : Hati