Formula Kebahagiaan

aneh

BAHAGIA merupakan idaman dan dambaan semua orang. Namun tak semua orang mengetahui kunci meraih kebahagiaan itu.

Menurut Ibnu Abbas, ada 7 (tujuh) indikasi kebahagiaan di dunia ini. Pertama, hati yang selalu bersyukur; kedua, pasangan yang baik; ketiga, anak-anak yang saleh; keempat memiliki lingkungan yang baik; kelima harta yang halal; keenam memahami agama; ketujuh umur yang berkah.

Tak perlu bersusah payah mencari dan menemukan formula kebahagiaan tersebut karena Tuhan telah menjelaskannya dengan seterang-terangnya.

“Siapa yang mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS: An Nahl: 97)

Makna hayatan thayyibatan (kehidupan yang baik) menurut Imam Al-Qurtuby yaitu adalah rezeki yang halal; qanaah; mendapat bimbingan Ilahi agar ia menjadi seorang yang taat; surga; kenikmatan iman; makrifat kepada Allah, merasa cukup dengan makhluk, dan sangat bergantung kepada Allah, serta ridha terhadap ketetapan-Nya.

Menurut Dr Aidh Al-Qarni, sang penulis kitab La Tahzan, bahwa maksud kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) adalah ketenangan jiwa mereka dikarenakan janji baik Rab mereka, keteguhan hati mereka dalam mencintai Zat yang menciptakan mereka, kesucian nurani mereka dari unsur-unsur penyimpangan iman, ketenangan mereka dalam menghadapi setiap kenyataan hidup, kerelaan hati mereka dalam menerima dan menjalani ketentuan Allah, dan keikhlasan mereka dalam menerima takdir. Dan itu semua adalah karena mereka benar-benar yakin dan tulus menerima bahwa Allah adalah Rab mereka, Islam agama mereka, dan Muhammad adalah nabi dan rasul yang diutus Allah untuk mereka.

Berdasarkan ayat 97 surat An Nahl di atas, ada dua syarat mutlak agar memperoleh hayatan thayyibatan (kehidupan yang baik atau yang membahagiakan), yaitu berbuat bajik, dan beriman.

Manusia, baik jenis laki-laki maupun perempuan akan mendapatkan hayatan thayyibatan jika ia selalu berlaku bajik dalam hidupnya. Perlakuan bajik ini berupa bajik hatinya, bajik lidahnya, bajik tingkah lakunya, bajik amal ibadahnya sehingga mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya dan makhluk hidup lainnya.

Kebajikan ini tidak cukup mengantarkan seseorang memperoleh kebahagiaan hakiki (hayatan thayyibatan) sebelum ia menjadi seorang yang benar-benar beriman (wa huwa mukminun: orang beriman). Artinya, kebajikan itu baru bernilai dan memperoleh hayatan thayyibatan jika didasari keimanan.

Menurut Abdullah bin Khafif, iman berarti penetapan kalbu terhadap apa yang telah dijelaskan oleh Al-Haq mengenai hal-hal yang gaib. Sementara menurut Sahl bin Abdullah at-Tustary, bahwa orang-orang yang beriman melihat Allah Swt dengan mata hati, tanpa pangkal batasan dan kawasan.

Secara sederhana mukmin itu adalah orang yang melaksanakan 6 (enam) rukun iman. Beriman kepada Allah Swt; malaikat; kitab; rasul; hari akhir; qadha dan qadar yang telah ditetapkan-Nya.

Keimanan tersebut diaplikasikan dengan cara melaksanakan 5 (lima) rukun Islam. Yaitu bersyahadat bahwa tidak ada Ilah selain Allah Swt, dan Muhammad Saw adalah rasul Allah Swt; mendirikan shalat; membayar zakat; menjalankan ibadah puasa; melaksanakan ibadah haji ke baitullah.

Semua perintah dalam bentuk rukun Islam tersebut dilaksanakan atas dasar bahwa ia benar-benar yakin bahwa Allah Swt melihat dan mengawasi semua perbuatan yang ia lakukan. Lalu ia mesti memiliki akhlak yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits Nabi. Yaitu akhlak yang dicontohkan oleh nabi Muhammad Saw.

Dr Carl Jung dalam bukunya the Modern Man In Search of Spirit menyebutkan: selama tiga puluh tahun, orang-orang dari berbagai negeri berperadaban datang menemui saya untuk melakukan konsultasi. Saya telah mengobati ratusan pasien dan sebagian mereka berusia setengah baya, yakni 35 tahun ke atas. Dan tidak ada di antara mereka yang persoalannya tidak dikembalikan kepada agama sebagai pandangan hidup. Maka dapat saya katakan bahwa setiap dari mereka jatuh sakit karena mereka kehilangan apa yang telah diberikan agama kepada orang-orang yang beriman. Dan, orang yang belum mampu mengembalikan keimanannya yang sejati, tidak akan dapat disembuhkan.

Wallahu a’lam. ***

Baca: Bekal Terbaik

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews