Binatang Jalang

binatang jalang

Bismillah,

MAAFKAN hamba karena judul tulisan ini terkesan kurang sopan. Hamba senantiasa ingat pesan Raja Ali Haji dalam Gurindam Duabelas, Pasal Kelima Bait Pertama: Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa. Ini suatu pesan yang membangun jatidiri mulia. Sudahlah kata binatang, dilanjutkan pula kata jalang. Suatu padanan makna negatif yang dahsyat jika ditulis dan diterjemahkan apa adanya dalam kalimat Dasar binatang jalang! Ada marah yang menggelegak dalam kalimat itu. Terkandung pula makna yang kasar dan tak pantas diucapkan.

”Jaga budi bahasa jika hidupmu tidak ingin binasa,” Emak berpesan lagi suatu ketika. Bangsa Melayu memang terkenal sangat bersopan santun dalam berbahasa. Tak perlulah hamba berkisah panjang tentang betapa hebatnya kesopansantunan bangsa Melayu dalam berbahasa, termasuk bersikap dan bertindak sebelum tiba pada amuk.

Frasa binatang jalang hamba ambil dari puisi hebat karya Chairil Anwar bertajuk Aku. Katanya dalam puisi itu, Aku ini binatang jalang/dari kumpulannya terbuang. Dalam hal ini, bukan pula hamba nak mengatakan bahwa Chairil itu kurang ajar, tidak sopan, atau berkata kasar. Hamba nak mengatakan bahwa Chairil sangat hebat memilih kata-kata atau frasa dalam puisi Aku. Ada makna kebebasan dan kemerdekaan diri dalam frasa binatang jalang pada keseluruhan konteks puisi itu. Tentu saja dalam kehidupan nyata tergambar dari metafora binatang jalang, baik yang senonoh maupun yang tak elok.

Jangankan puisi-puisinya, kepada isterinya pun, Chairil memanggilnya dengan sebutan Gajah. Pada suatu ketika, Chairil pernah berkata kepada isterinya, mengenai cita-citanya. ”Gajah, kalau umurku panjang aku akan jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya. (Panggilan kesayangan terhadap isterinya (Hapsah Wiriaredja) adalah Gajah karena badannya gemuk).

”Ah, kalau umurmu panjang, kamu bakal masuk penjara,” gurau isterinya. Kemudian, Chairil melanjutkan lagi.

”Tapi, kalau umurku ditakdirkan pendek, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga,” demikian katanya.

Sebutan kesayangan dengan nama binatang itu tidak semua orang bisa menerimanya, tetapi semua orang bisa menyebutnya. Begitulah Chairil. Dia bisa dengan bebas memilih kata untuk dihidupkan dalam kehidupan dan puisinya.

Dalam ajaran yang Hamba yakini, kelakuan manusia itu memang dahsyat. Manusia bisa lebih mulia daripada malaikat. Manusia pun bisa lebih bejat daripada binatang. Tatanan kemuliaan memiliki derajat tinggi. Tatanan kebejatan memiliki derajat rendah. Lazimnya, semua kita tidak mau disebut atau disamakan dengan nama binatang apalagi dimaki dengan kata binatang. Perihal berkaitan dengan kelakuan ini, peribahasa kita membuat perbandingan antara manusia dan binatang. Manusia tahan kias, binatang tahan palu. Ini bermakna mengajar dan mendidik manusia cukup dengan kiasan (kelembutan) dan tak perlu pakai palu (kekerasan). Sebaliknya, mengajar dan mendidik binatang tidak bisa dengan kias dan mesti dengan pukulan. Nah, jika dalam diri manusia kelakuan atau sifat binatang lebih kuat daripada sifat manusianya, itu akan terjadi perseteruan.

Dalam sekejap, manusia tertentu bisa menjadi binatang. Manusia tertentu pula bisa menjadi jalang.

”Jangan sesekali kalian seperti binatang. Jangan pula menjadi manusia jalang,” telunjuk Emak melanyak hati kami sampai runyuk.

Aku tahu apa maksud Emak. Emak sudah banyak makan garam. Dia telah bertemu dengan beragam perangai orang. Tentu saja dia pernah melihat orang berperangai macam binatang. Emak pernah bertemu manusia harimau, manusia bebek, manusia tikus, manusia kupu-kupu, manusia ular, manusia buaya, manusia lintah, manusia anjing, dan sejenisnya. Tentu pula dia ada berjumpa dengan orang berperangai macam binatang jalang. Karena itulah, Emak menghenyak hati kami dengan kalimat tersebut.

Kita kembali ke puisi Aku karya Chairil Anwar dalam rangka memperingati Hari Puisi Indonesia (HPI) ke-10. Beragam ibrah yang dapat kita ambil setelah memahami makna puisi tersebut. Pertama, jatidiri yang teguh akan kebenaran yang diyakini. Ini tergambar dalam larik: Kumau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau. Kedua, jatidiri pantang menyerah, tergambar dalam larik: Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari/ Hingga hilang pedih perih. Ketiga, semangat juang yang selalu membara, tergambar dari larik: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Keempat, jatidiri ingin merdeka, tergambar dalam larik: Tak perlu sedu sedan itu/ Aku ini binatang jalang. Frasa binatang jalang menggambarkan sikap hidup manusia yang menginginkan kemerdekaan, baik fisik maupun psikis.

Inti puisi ini terletak pada larik Aku ini binatang jalang. Diksi Aku dan frasa binatang jalang merupakan deskripsi seseorang ingin berjuang tanpa batas. Dia akan melanyak segala rintangan. Perjuangan yang digambarkan dalam puisi ini mencerminkan bangunan jatidiri yang kuat dalam melakoni kehidupan.

”Tapi, kalian mesti menjadi manusia,” kata Emak.***

Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 26 Zulhijah 1443 / 26 Juli 2022.

Baca : Ketor