Guru (Selamat Hari Guru, 25 November)

Guru

Bismillah,
Hakikat guru bagaikan suluh di setiap keluh. Guru itu kandil kemerlap, bak pelita di malam gelap. Dia tak sama seperti lilin yang sanggup membakar diri sendiri demi orang lain. Orang yang biasa disapa Cikgu itu patut disemat pahlawan berjasa meskipun tidak dihargai dengan tanda jasa. Dia melanyak minda, rasa, dan raga kita. Setiap hari, para guru berhempas pulas bermandi peluh untuk membangun jatidiri anak negeri.

Hakikat lain, guru bukanlah malaikat. Sebagai manusia, guru pun tak luput dari kesilapan. Karena tak luput dari kesilapan itu, guru dituntut berlapang dada jika dikritik. Kritikan bisa menerpa dari beragam arah. Sesama guru dan kepala sekolah bisa mengkritik. Orang tua dan masyarakat bisa mengkritik. Bahkan, guru mesti ikhlas menampung kritikan dari peserta didik.
”Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Murid bukanlah kerbau,” kata Soe Hok Gie.
”Tapi ingat, menghormati guru itu lebih penting,” tepis Abah kepada Hamba saat masih menuntut ilmu.
Kasihkan orang yang berilmu, tanda rahmat atas dirimu,” begitu Raja Ali Haji menulis dalam Gurindam Duabelas, Pasal 12, Ayat 4.

Guru bagaikan petani. Kerjanya mencabut duri. Setiap hari mencabut rumput yang tumbuh di celah-celah tanaman. Saban hari, petani menyirami beragam tanamannya di kebun dengan pupuk. Saban hari juga, guru menyirami para peserta didiknya di sekolah dengan adab dan ilmu. Petani berharap tanamannya tumbuh subur sehingga berharga tinggi di pasar. Guru berharap peserta didiknya berakhlak mulia dan cerdas lahir-batin sehingga berdaya saing tinggi di dunia kerja.
”Kerja guru itu tak ubahnya seperti petani yang senantiasa membuang duri dan mencabut rumput yang tumbuh di celah-celah tanamannya,” begitulah simile yang diungkapkan Abdul Hamid Al Ghazali.

Hakikatnya, kita semua adalah petani. Kita semua adalah guru. Rumah kita adalah sekolah. Lingkungan sekitar kita juga sekolah. Alam terbentang pun jadi sumber belajar. Kalaulah semua rumah, lingkungan, dan alam bisa menjadi surga untuk taman belajar atau sekolah, tentu akan lahir generasi beradab dan berilmu mulia.
”Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah,” tegas Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan nasional.

Berguru itu sangat dianjurkan. Belajar tanpa guru bisa saja menyesatkan. Namun, kita perlu berwaspada ketika memilih guru. Pesan Raja Ali Haji (RAH) dalam Gurindam Duabelas, Pasal 6, Ayat ke-2, ”Cahari olehmu akan guru, yang boleh tahukan setiap seteru.” Menuntut ilmu itu mesti dilakukan sejak dini. Selain itu, berjiwa mudalah jika menuntut ilmu. Pesan RAH selanjutnya dalam Pasal 9, Ayat 7,”Jika orang muda kuat berguru, dengan syaitan jadi seteru.” Lalu, Pasal 12, Ayat 5, RAH mengatakan, ”Hormat akan orang yang pandai, tanda mengenal kasa dan cindai.” Begitu pentingnya menghormati guru sebagai orang pandai. Sikap menghormati guru merupakan perwujudan akhlak mulia.

Umar bin Khattab mengatakan, tawaduklah kalian terhadap orang yang mengajari kalian. Lawan dari tawaduk adalah sombong atau meremehkan orang lain (guru). Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam hadis Muslim, ”Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” Kedua, berlemah lembut, sopan, segan, dan bersabar. Imam al-Syafii berkata, dulu aku membolak-balikkan kertas di depan guru (Imam Malik) dengan sangat lembut karena segan kepadanya dan supaya dia tidak mendengarnya. Selanjutnya, bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya. Pernyataan Imam al-Syafii ini sangat empiris. Kuncinya, yaitu kita tidak menguasai ilmu dikarenakan memusuhi guru. Ketiga, beradab terbaik. Adab berkaitan dengan kehalusan budi pekerti atau berakhlak mulia ketika berhadapan dengan guru. Dalam riwayat Thabrani, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam bersabda, pelajarilah ilmu, pelajarilah ilmu dengan ketenangan dan sikap hormat serta tawaduklah kepada orang yang mengajarimu. Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab Hilyah Tolib al-Ilm berkata, beradablah dengan yang terbaik pada saat kamu duduk bersama syaikhmu. Gunakanlah cara yang terbaik ketika bertanya dan mendengarkannya. Berkaitan denga adab ini juga, Ibnu al-Jamaah mengatakan, seorang penuntut ilmu harus duduk dengan sopan di hadapan gurunya, tenang, tawaduk, mata tertuju kepada guru, tidak menyelunjurkan kaki, tidak bersandar, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi daripada gurunya, dan tidak membelakangi gurunya. Keempat, mendoakan guru. Abdullah, putra Imam Ahmad bertanya kepada ayahnya. ”Syafii itu seperti apa orangnya sehingga aku melihat ayah banyak mendoakannya?” Imam Ahmad menjawab, ”Wahai anakku, Syafii seperti matahari bagi dunia.”

Kata orang, guru itu ujung tombak. Keliru. Sebenarnya, guru itu pemegang tombak. Guru akan membidik ke mana arah yang nak dituju. Tombak itu adalah anak-anak (didik). Ke mana dia akan mengarahkan tombak itu, ke sanalah tombak tersebut melesat. Kalaulah tak tepat sasaran mengarahkan tombak, sasaran akan meleset. Adab bisa jadi di bawah ilmu. Padahal yang kita inginkan adalah ilmu di bawah adab. Mendidiklah hingga menjadi orang. Kalau anak menjadi orang, kecil menjadi tuah rumah, besar menjadi tuah negeri. Begitulah tamsil orang-orang tua. Dalam Tunjuk Ajar Melayu (1994:551) dikatakan sebagai berikut.
Kalau hendak mendidik anak, petuah amanah hendaklah simak: dari kecil ditanamkan iman, supaya cepat mengenal Tuhan. Dari kecil diisi amanah, supaya cepat mengenal Allah. Dari kecil diajar mengaji, supaya hikmahnya melekat di hati. Dari kecil diajar sembahyang, supaya imannya sampai ke tulang. Anak dididik dengan kasih, kasih jangan berlebih-lebih. Kasih berlebih membutakan.

Hakikat guru bagaikan suluh di setiap keluh. Guru itu kandil kemerlap, bak pelita di malam gelap. Kata Anies Baswedan,”Kurikulum berubah, tidak otomatis kualitas pendidikan meningkat. Jika kualitas guru meningkat, kualitas pendidikan pasti meningkat. Itu kuncinya.”***

Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 28 Rabiul Akhir 1444 / 22 November 2022

Baca : Hutan